Search

Hakikat Kedewasaan

Dewasa bukan proses rekayasa. Tetapi, merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prof Ahmad Hasan dalam artikelnya yang berjudul “Samat ar Rajulah fi al-Islam” mengatakan bahwa hakikat kedewasaan seseorang adalah kematangan emosional yang tercermin pada tiap perbuatannya. Dewasa bukan proses rekayasa. Tetapi, merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan.

Ini penting. Acap kali seseorang memaksakan diri ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia telah dewasa. Padahal, di saat bersamaan, justru tindakannya itu merusak esensi kedewasaan.

Lantas, apa sajakah kriteria dan ciri yang bisa dijadikan acuan untuk mengukur kedewasaan seseorang? Paling tidak, karakter umum sehari-hari yang tampak dari perilaku lahirnya.

Prof Hasan menguraikan beberapa tanda-tanda kedewasaan, antara lain yang pertama, penguasaan dan kontrol diri yang kuat (al-iradah wa dhabth an-nafsi). Sifat ini adalah fondasi utama bagi kematangan pri badi seseorang. Dengan sifat ini, mereka yang bisa mengontrol dan menguasi diri akan menahan dari se gala amarah, nafsu, dan hasrat duniawi.

Figur yang dewasa akan urung murka, misalnya tatkala emosinya memuncak. Di sini akan tampak kearifan dan kebijakannya. Dewasa bukan diukur dari respons dan reaksi dengan kekerasan sebagai bentuk penyikapan perlawanan atas apa pun yang ia tidak kehendaki. Melainkan orang yang bijak adalah mereka yang berhasil menaklukkan nafsunya.

Lagi-lagi, kemampuan menahan emosi dan memilih bersikap bijaksana itulah ciri pribadi yang bertakwa. Ini sebagaimana ditegaskan ayat berikut, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 135).

Sebuah hadis menegaskan, kekuatan orang bukan ditimbang dari kepiawaiannya berkelahi, tetapi para jawara yang sejati ialah mereka yang mampu menguasai dirinya saat murka. Kebanggaan tidak dinilai dari kekuatan otot, tetapi kematangan.

Kedua, cita-cita dan kemauan yang tinggi. Sebuah pepatah mengatakan, cita-cita itu adalah separuh dari kepribadian (al-himmah nishf almuru’ah). Jika kemauan dan cita-cita itu kuat maka sangat memengaruhi kesuksesan seseorang.

Sebaliknya, orang yang tak berkepribadian matang, maka ia tak memiliki ambisi dan keinginan yang tinggi. Ia akan merasa cukup dengan pencapaian yang telah diraihnya. Ia akan tenggelam dalam rutinitas yang terkadang melenakan banyak orang. Potensinya tak terjamah maksimal.

Ketiga, kesopanan, kehormatan, dan kebanggaan. Figur yang dewa sa tak akan gentar dan takut meng hadapi kenyataan. Baik realita me ngenakkan ataupun buruk sekali pun. Keberanian dan ketegarannya mengalahkan rasa tukut di benaknya. Rasa takut ini merupakan salah satu musuh utama dalam Islam. Konon, para generasi gemilang awal Islam meletakkan keberanian sebagai penopang kemajuan peradaban Islam. Rasul pernah menyatakan, seburuk perangai yang ada di sosok lelaki ialah kebakhilan yang menjerat dan ketakutan yang mencerai-beraikan.

Keempat, konsistensi dan kete guhan memegang komitmen atau janji. Ia memiliki tanggung jawab besar atas kepercayaan yang diberikan ke padanya. Rasul adalah teladan paling tepat untuk menggambarkan figur yang konsisten dan berkomitmen. Pada peristiwa penaklukkan Makkah, Rasul mengembalikan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah. “Ini dia kuncimu wahai Utsman, hari ini adalah hari kebaikan dan menepati janji,” titahnya.

Let's block ads! (Why?)

from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2RceTz3

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Hakikat Kedewasaan"

Post a Comment

Powered by Blogger.